JOMBANG, DiksiNow.id – Di sebuah rumah sederhana di Desa Dapurkejambon, Kecamatan Jombang, wajah Ida Rahmawati (43) tampak berbinar. Sore itu, lampu kecil di ruang tamunya menyala untuk pertama kalinya tanpa harus menyalur dari rumah tetangga.
“Alhamdulillah, sekarang rumah saya sudah punya listrik sendiri,” ucapnya lirih, matanya berkaca-kaca.
Selama dua tahun terakhir, Ida dan dua anak perempuannya hidup dalam keterbatasan. Sejak suaminya meninggal lima tahun lalu, ia menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai penjaga toko di Pasar Legi Jombang. Penghasilannya pas-pasan, sekadar cukup untuk makan dan biaya sekolah anak. Biaya pemasangan listrik baru menjadi hal yang mustahil baginya.
“Dulu saya cuma bisa menyalur ke tetangga. Kadang kalau ada kendala, rumah jadi gelap,” tuturnya.
Namun nasib Ida berubah ketika perangkat desa mendata rumah-rumah warga yang belum memiliki sambungan listrik. Ia termasuk dalam daftar penerima bantuan program Light Up The Dream (LUTD) atau Rencana Umum Tenaga Listrik (RUTD) dari PLN UP3 Mojokerto.
Program tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Listrik Nasional (HLN) ke-80, yang bertujuan memberikan akses listrik gratis bagi masyarakat kurang mampu di berbagai daerah.
Muhamad Syafdinur, Manajer PLN UP3 Mojokerto, menjelaskan bahwa program ini merupakan komitmen berkelanjutan PLN untuk membantu masyarakat miskin agar hidup lebih produktif.
“Banyak warga yang menyalur listrik karena tak mampu pasang sendiri. Padahal, itu berisiko terhadap keselamatan. Melalui program ini, mereka kini punya sambungan listrik legal dengan daya subsidi,” ujarnya.
Menurut Syafdinur, di Kabupaten Jombang sudah ada tiga rumah tangga yang mendapat pemasangan listrik gratis. Data calon penerima lainnya masih dalam proses verifikasi berdasarkan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).
Ia menegaskan, PLN terus bekerja sama dengan perangkat desa untuk mendeteksi warga yang belum memiliki sambungan listrik dan tergolong kurang mampu.
“Kami ingin tak ada lagi warga yang hidup dalam gelap karena keterbatasan ekonomi,” katanya.
Kini, rumah Ida bukan hanya terang oleh cahaya lampu, tapi juga oleh rasa syukur. Baginya, listrik bukan sekadar penerangan, tapi simbol harapan dan awal baru.
“Anak-anak bisa belajar malam hari tanpa takut gelap. Saya pun bisa istirahat lebih tenang,” kata Ida tersenyum.
Di tengah kesederhanaannya, Ida membuktikan bahwa harapan tak pernah benar-benar padam. Dengan sedikit cahaya dari PLN, hidupnya kini terasa lebih terang dalam arti sebenarnya.






