DiksiNow.id – Eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini berdampak langsung pada jalur perdagangan global. Sekitar 60 kapal komersial milik atau berbendera Prancis dilaporkan tertahan di kawasan Teluk akibat situasi keamanan yang memburuk di Selat Hormuz.
Direktur Jenderal organisasi pelayaran Prancis, Armateurs de France, Laurent Martens, mengatakan kapal-kapal tersebut diperintahkan untuk tidak bergerak. Instruksi itu datang langsung dari otoritas militer Prancis demi menghindari risiko serangan di jalur laut yang kini menjadi titik panas pertempuran.
“Kapal-kapal telah diperintahkan mencari perlindungan yang aman,” ujarnya kepada AFP, Senin (2/3/2026).
Menurut Martens, meski berada di zona konflik, kapal-kapal komersial tersebut bukan target utama pihak yang bertikai. Fokus utama saat ini adalah keselamatan awak kapal yang sebagian besar berlindung di dalam kapal maupun di pelabuhan sekitar Teluk.
Ketua Armateurs de France, Edouard Louis-Dreyfus, menegaskan bahwa akses keluar-masuk melalui Selat Hormuz praktis lumpuh. Jalur yang lebarnya sekitar 50 kilometer di titik tersempit itu dikenal sebagai salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
“Sekitar 60 kapal yang terjebak di Teluk tidak bisa melewati Selat Hormuz,” tegasnya dalam wawancara radio France Inter.
Ketegangan meningkat setelah Garda Revolusi Iran mengumumkan penutupan jalur tersebut dan menghubungi kapal-kapal yang berada di perairan sekitar. Situasi makin memburuk usai dua kapal dilaporkan diserang di lepas pantai Oman dan Uni Emirat Arab dalam beberapa hari terakhir.
Instruksi darurat pun dikeluarkan. Kapal yang sudah berada di Teluk diminta tidak bergerak dan tidak mencoba keluar. Sementara kapal lain diperingatkan menjauh sejauh mungkin dari wilayah tersebut.
Kekhawatiran industri pelayaran global bertambah karena sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat yang menjadi target serangan rudal Iran berada dekat dengan pelabuhan utama negara-negara Teluk. Risiko kerusakan kolateral dinilai sangat tinggi.
Sebagai langkah antisipasi, Armateurs de France mengupayakan pengurangan jumlah kru hingga batas minimum operasional serta repatriasi awak kapal jika memungkinkan. Kebijakan serupa juga diambil oleh perusahaan pelayaran raksasa dunia seperti MSC dan Maersk yang menangguhkan pelayaran melalui Selat Hormuz dan Terusan Suez.
Situasi di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia. Gangguan berkepanjangan di jalur ini berpotensi mengguncang rantai pasok global dan memicu lonjakan harga energi internasional. Dunia pelayaran pun bersiap menghadapi skenario terburuk jika konflik terus meluas.






