NGANJUK, DiksiNow.id – Kesabaran warga Dusun Bandung, Desa Betet, Kecamatan Ngronggot, akhirnya habis. Selasa (3/3/2026), mereka menggelar aksi protes terhadap kondisi jalan lingkungan yang rusak parah dan tak kunjung diperbaiki selama lebih dari satu dekade.
Sebagai bentuk sindiran, warga menanam pohon pisang di tengah jalan berlubang yang tergenang air. Tak hanya itu, mereka juga menebar benih ikan lele di kubangan yang terbentuk saat hujan turun.
Bagi warga, jalan tersebut sudah lebih mirip kolam ikan ketimbang akses transportasi.
Pantauan di lokasi menunjukkan genangan air menutup hampir seluruh badan jalan. Di tengah kubangan itu, sebatang pohon pisang berdiri sebagai simbol kekecewaan. Spanduk dan poster bernada kritik tajam turut dibentangkan.
“Kami sudah bosan diberi janji. Sudah 10 tahun jalan ini hancur. Kalau hujan jadi kubangan. Kami warga Dusun Bandung Lor seperti tidak pernah diperhatikan,” ujar Yetno, warga RT 26, di sela aksi.
Menurutnya, kerusakan jalan bukan hanya menghambat aktivitas warga, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna.
“Kami ini bayar pajak. Tapi mana timbal baliknya? Jalan rusak parah, belum juga dikerjakan,” tegasnya.
Dalam poster yang dibawa, warga menuliskan tuntutan pemerataan pembangunan hingga tingkat dusun. Salah satunya berbunyi, “Wujudkan Pancasila Sila Kelima bagi Seluruh Warga Indonesia.” Mereka juga menyatakan penolakan terhadap “janji palsu” yang dinilai tak pernah berujung realisasi.
Sementara itu, Kepala Desa Betet Suhartini mengakui pihaknya baru mengetahui secara pasti bahwa ruas tersebut berstatus jalan desa.
“Selama ini kami mengira itu jalan kabupaten karena berada di perempatan penghubung Desa Betet dan Desa Kaloran,” ujarnya.
Ia menyatakan pemerintah desa akan mengupayakan perbaikan menggunakan anggaran Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) 2025 apabila bantuan dari Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk belum bisa direalisasikan tahun ini.
“Kalau dari PUPR belum bisa menganggarkan, nanti akan kami eksekusi menggunakan SiLPA,” pungkasnya.
Aksi simbolik warga Ngronggot itu menjadi penanda bahwa persoalan infrastruktur desa tak lagi bisa dijawab dengan janji. Warga kini menunggu bukti nyata di lapangan.






