JAKARTA, DiksiNow.id – Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno meniti karier militer sejak usia muda. Ia diterima sebagai taruna Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) pada 1956. Namun baru setahun pendidikan, ia sudah diterjunkan dalam operasi penumpasan PRRI.
Pada 1962, Try kembali terlibat dalam Operasi Pembebasan Irian Barat. Dalam operasi inilah ia mulai berinteraksi dengan Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Komando Mandala. Kedekatan keduanya terjalin sejak periode tersebut.
Ketika Soeharto menjadi Presiden RI pada 1968, karier Try terus menanjak. Tahun 1974, ia dipercaya menjadi ajudan presiden—penugasan yang menjadi titik penting dalam perjalanan militernya.
Dari KSAD hingga Panglima ABRI
Sejumlah posisi strategis pernah diembannya. Ia menjabat Kepala Komando Daerah Staf Kodam XVI/Udayana (1978), Panglima Kodam IV/Sriwijaya, hingga Panglima Kodam V/Jaya.
Agustus 1985, Try naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dan dipercaya sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Pada Juni 1986, ia diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), lalu pada April 1987 menyandang pangkat Jenderal penuh.
Awal 1988, Try Sutrisno dipromosikan menjadi Panglima ABRI menggantikan Jenderal TNI L.B. Moerdani. Ia memimpin ABRI selama lima tahun (1988–1993), di masa ketika struktur ABRI masih mencakup TNI AD, TNI AL, TNI AU, serta Polri.
Terpilih Jadi Wakil Presiden
Pada Sidang Umum MPR 1993, Try Sutrisno terpilih menjadi Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto. Ia menjadi wapres ketiga dari kalangan militer pada era tersebut, menggantikan Sudharmono.
Masa jabatannya sebagai RI-2 berakhir pada 1998. Dalam Sidang Umum MPR tahun itu, posisinya kemudian digantikan oleh B. J. Habibie.
Kepergian Try Sutrisno menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang pernah berada di lingkar inti kepemimpinan nasional—dari medan operasi hingga kursi wakil presiden.






