KSP Ungkap Ribuan Dapur MBG Belum Punya Sertifikat Higiene, Hanya 34 yang Lolos Standar

Rabu, 24 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA, DiksiNow.id – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari mengungkap fakta mencengangkan soal kelayakan dapur penyelenggara Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia. Dari total 8.583 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hanya 34 yang sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS).

Artinya, 8.549 dapur lainnya belum memenuhi standar keamanan pangan

“Singkatnya, SPPG itu harus punya SLHS dari Kemenkes sebagai upaya mitigasi dan pencegahan keracunan pada program MBG,” kata Qodari, Senin (22/9/2025), seperti dikutip Kompas.com

Baca Juga:  KRI REM Gelar Simulasi Peperangan di Laut Banda

Selain minim sertifikat, Qodari juga menyoroti lemahnya penerapan standar keamanan pangan. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, dari 1.379 SPPG yang diaudit, hanya 413 memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) Keamanan Pangan. Lebih mengkhawatirkan lagi, hanya 312 dapur yang benar-benar menjalankannya.

“Kalau mau mengatasi masalah ini, SOP keamanan pangan harus ada dan dijalankan,” tegas Qodari.

Menurut dia, setiap dapur MBG wajib memiliki SLHS dan SOP sebagai syarat operasional. Regulasi sebenarnya sudah disiapkan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan dukungan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Namun, pengawasan dan kepatuhan di lapangan masih jadi pekerjaan rumah terbesar.

Baca Juga:  Petani Jombang Keluhkan Kuota Pupuk, Menko Pangan Zulhas Janji Tambah Pasokan

“PR-nya adalah sisi aktivasi dan pengawasan kepatuhan,” ujarnya.

Lonjakan kasus keracunan makanan MBG yang menelan lebih dari 5.000 korban di berbagai wilayah membuat isu ini kian genting. Data itu bahkan dicatat seragam oleh tiga lembaga berbeda yakni Kemenkes, BGN, dan BPOM yang menunjukkan masalah ini nyata dan mendesak.

Baca Juga:  Rupiah Melemah, Dolar AS Mendekati Rp17.000

Qodari menjelaskan, keracunan dipicu oleh rendahnya higienitas makanan, suhu penyimpanan yang tidak sesuai standar, kesalahan pengolahan, kontaminasi silang oleh petugas, hingga faktor alergi penerima manfaat.

Ia menegaskan, pemerintah tidak tinggal diam. “Pemerintah tidak tone deaf, tidak buta dan tuli. Bahkan Pak Mensesneg pada Jumat lalu sudah menyampaikan permintaan maaf dan komitmen evaluasi,” tutur Qodari.

Berita Terkait

NasDem Jombang Didesak Respons Isu Tempo
Viral! Bahlil Ajak Warga Irit LPG, Matikan Kompor Setelah Masak
Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik, Pertalite dan Solar Tetap Aman
Khofifah Terapkan WFH ASN Jatim Setiap Rabu, Strategi Tekan Konsumsi BBM
Eks Menag Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
Prabowo Panggil Airlangga dan Purbaya ke Istana, Bahas Efisiensi hingga WFH ASN
Kasus Penyiraman Andrie Yunus Memanas, Kepala BAIS Mundur
MBG Tetap Disalurkan Sesuai Kehadiran Siswa
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 17:18

NasDem Jombang Didesak Respons Isu Tempo

Jumat, 27 Maret 2026 - 15:41

Viral! Bahlil Ajak Warga Irit LPG, Matikan Kompor Setelah Masak

Jumat, 27 Maret 2026 - 15:28

Bahlil Pastikan Harga BBM Subsidi Tak Naik, Pertalite dan Solar Tetap Aman

Jumat, 27 Maret 2026 - 15:21

Eks Menag Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK

Jumat, 27 Maret 2026 - 15:18

Prabowo Panggil Airlangga dan Purbaya ke Istana, Bahas Efisiensi hingga WFH ASN

Berita Terbaru

Daerah

NasDem Jombang Didesak Respons Isu Tempo

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:18

Daerah

Perdana, Orado Jombang Gelar Turnamen Kejurcab Domino

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:16