JOMBANG, DiksiNow.id – Puluhan santri Pondok Pesantren Darut-Taubah di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, diduga mengalami keracunan massal usai menyantap menu buka puasa pada Kamis (5/3/2026) petang. Sebanyak 31 santri dilarikan ke RS PKU Muhammadiyah Mojoagung setelah mengalami mual, muntah, dan lemas.
Peristiwa terjadi beberapa saat setelah para santri berbuka puasa dengan menu nasi rawon dan telur asin. Gejala mulai muncul menjelang salat Tarawih sekitar pukul 19.40 WIB, ketika sejumlah santri tiba-tiba mengeluhkan mual dan muntah.
Situasi di lingkungan pondok sempat panik. Beberapa santri, terutama santri putri, terlihat lemas hingga harus digotong sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan ambulans ke rumah sakit.
Salah satu santri, M. Surur (18), mengatakan gejala awal muncul saat mengikuti salat Tarawih.
“Awalnya mual, lalu banyak teman-teman juga mengeluh hal yang sama. Yang putri banyak yang kondisinya lebih parah,” ujarnya.
Menu buka puasa yang dikonsumsi santri berasal dari dua sumber. Nasi rawon disiapkan dapur pondok pesantren, sedangkan telur asin berasal dari penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima pada pagi hari.
Pengasuh pondok pesantren, Muhammad Adam, menyebut kondisi santri berubah cepat setelah makan. Beberapa santri mengalami muntah hebat hingga lemas.
“Baru makan sudah ada yang mual lalu muntah. Yang perempuan terutama, ada yang sampai pingsan,” katanya.
Menurutnya, sebagian santri yang tidak mengonsumsi telur asin tidak mengalami gejala serupa.
“Ada yang muntah sampai keluar telur asinnya. Yang tidak makan telur asin, termasuk saya, hanya makan rawon dan tidak mengalami apa-apa,” ujarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang, Hexawan Tjahja Widada, membenarkan puluhan santri mengalami gejala keracunan makanan.
Hingga Kamis malam, 21 santri masih menjalani perawatan karena mual dan muntah hebat, sementara 10 santri lainnya sudah diperbolehkan pulang setelah kondisinya membaik.
“Indikasi awal mengarah pada keracunan atau intoleransi makanan. Gejala paling menonjol adalah mual dan muntah,” kata Hexawan.
Dinas Kesehatan telah mengamankan sampel makanan untuk pemeriksaan laboratorium, termasuk sisa nasi rawon, telur asin, serta sampel muntahan santri.
“Sampel akan diperiksa di laboratorium untuk memastikan penyebabnya. Saat ini kami belum bisa menyimpulkan sumbernya dari makanan pondok atau dari menu program MBG,” ujarnya.






