DiksiNow.id – Di tengah arus sejarah yang sering kali menyoroti tokoh-tokoh militer dan politik, kiprah kiai dan santri dalam perjuangan kemerdekaan kerap luput dari sorotan publik. Padahal, dari bilik pesantren hingga medan pertempuran, mereka memainkan peran penting membangun moral bangsa sekaligus mengobarkan semangat perlawanan terhadap penjajahan.
Sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, pesantren menjadi benteng pendidikan, kebudayaan, dan perjuangan rakyat. Di sanalah nilai cinta tanah air tumbuh, jauh sebelum istilah nasionalisme dikenal luas. Salah satu tonggak paling bersejarah adalah Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 di Surabaya—sebuah seruan yang memantik pertempuran heroik 10 November dan meneguhkan peran ulama-santri dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kiai dan santri bukan hanya penggerak spiritual, melainkan juga komandan lapangan. Mereka memimpin berbagai laskar seperti Hisbullah, Sabilillah, dan Mujahidin, berjuang mengusir penjajah demi tegaknya Republik Indonesia.
Berikut 12 kiai dan santri pejuang kemerdekaan yang telah mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Pangeran Diponegoro
Pemimpin Perang Jawa (1825–1830) yang dikenal dengan nama Islam Abdul Hamid. Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 87/TK/1973.
KH. Hasyim Asy’ari
Pendiri Nahdlatul Ulama dan pencetus Resolusi Jihad. Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional lewat SK Presiden No. 294, November 1964.
KH. Wahid Hasyim
Putra Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, perumus Pancasila, dan Menteri Agama pertama RI. Ditetapkan Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 206, Agustus 1964.
KH. Zainul Arifin Pohan
Komandan Laskar Hisbullah, Wakil Perdana Menteri RI. Mendapat gelar Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 35, 4 Maret 1963.
KH. Zainal Mustofa
Kiai asal Tasikmalaya yang gugur melawan penjajah Jepang. Ditetapkan Pahlawan Nasional lewat SK Presiden No. 064, November 1972.
H. Andi Mappanyukki
Raja Bone yang memimpin perlawanan terhadap Belanda dan Jepang (1945–1949). Ditetapkan melalui SK Presiden No. 089, 5 November 2004.
H. Andi Djemma
Raja Luwu yang berjuang melawan kolonial Belanda (1946–1948). Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat SK Presiden No. 073, 6 November 2002.
KH. Wahab Chasbullah
Pendiri NU dan Komandan Barisan Kiai, berperan besar dalam perlawanan terhadap penjajah dan penumpasan PKI 1965. Ditetapkan Pahlawan Nasional melalui SK Presiden, November 2014.
KH. As’ad Syamsul Arifin
Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo, tokoh perumus berdirinya NU. Ditetapkan Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 91, November 2016.
KH. Idham Chalid
Ketua Umum PBNU (1956–1984), mantan Ketua MPR RI dan Wakil Perdana Menteri. Ditetapkan Pahlawan Nasional lewat SK Presiden No. 113, 7 November 2011.
KH. Sam’un
Pejuang pesantren dalam masa Revolusi 1945–1949. Ditetapkan Pahlawan Nasional melalui SK Presiden, 8 November 2018.
KH. Masjkur
Komandan Laskar Sabilillah, anggota BPUPKI, perumus dasar negara, dan Menteri Agama RI. Ditetapkan Pahlawan Nasional melalui SK Presiden, 8 November 2019.
Warisan Spirit Pesantren
Perjuangan para kiai dan santri bukan hanya soal senjata, tetapi juga nilai tentang keikhlasan, cinta tanah air, dan pengabdian tanpa pamrih. Warisan ini terus hidup dalam peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober, sebagai pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia juga lahir dari doa dan perjuangan para ulama.
“Cinta tanah air sebagian dari iman,” begitu pesan KH. Hasyim Asy’ari yang hingga kini tetap membakar semangat para santri di seluruh pelosok negeri.
Editor : zakky






