JOMBANG, DiksiNow.id – Rabu pagi (19/11) di Dusun Pagerongkal, Desa Pagertanjung, Kecamatan Ploso, Jombang, dimulai dengan suara yang tidak biasa. Bukan suara musik dari pesta, bukan pula percakapan keluarga yang sibuk mempersiapkan pernikahan.
Suara itu, yakni suara air. Gemericik deras, semakin lama semakin tinggi, menyusup lewat halaman dan pintu, sebelum akhirnya memenuhi seluruh permukiman.
Dalam kurang dari satu jam, air itu kemudian meninggi lebih dari 30 sentimeter. Menutup jalan, merendam rumah, dan memaksa warga bertelanjang kaki menyeberangi halaman mereka yang berubah menjadi kubangan air.
Namun, di tengah situasi yang meresahkan itu, sebuah tenda pernikahan tetap berdiri. Dentuman sound system terdengar kontras dengan bunyi banjir yang bergerak pelan.
Di sanalah pernikahan Halimah dan Suwarno harus tetap dilangsungkan.
Banjir datang sejak pukul 03.00 WIB itu datang setelah hujan deras mengguyur semalaman. Sungai Marmoyo dan anak sungainya meluap. Mengirim air ke puluhan rumah termasuk milik keluarga Sarini, (62).
“Ini yang paling tinggi. Biasanya tidak sampai seperti ini,” ucap Sarini, pelan.
Namun tanggal sudah dipilih, undangan telah disebar, persiapan selesai. Membatalkan pernikahan bukan pilihan.
“Iya akhirnya basah-basahan semua. Sampai pagi air masih tinggi,” katanya.
Keluarga dan tetangga pun bergerak cepat. Mereka menata ulang kursi, mengalihkan jalur menuju pelaminan, dan menjaga peralatan tetap kering sebisanya.
Di antara air yang mengalir, tamu berjalan tanpa alas kaki, sebagian mengangkat kain agar tidak basah.
Air yang mencapai selutut membuat anak Sarini, yakni Halimah, tidak mungkin berjalan menuju tempat ijab kabul. Ia harus digendong beberapa kerabat.
Pemandangan itu sontak membuat suasana berubah haru. Gaun pengantin yang diangkat, langkah hati-hati para pembawa, dan warga yang menonton sambil menahan napas.
“Iya tadi digendong, karena airnya dalam. Selutut. Ini demi menghalalkanmu,” ucap salah satu tamu undangan.
Tidak hanya itu, prosesi temu manten juga ikut kacau. Tingginya air memaksa agenda itu mundur dua kali.
“Harusnya jam delapan. Ditunda jam sepuluh, lalu jam dua belas karena air belum turun,” timpal Sarini melanjutkan.
Namun satu per satu, semua tetap dijalankan. Pengantin dipertemukan, digendong menuju pelaminan. Disalami tamu yang rela berguyur air.
Meski basah, akad tetap berlangsung tenang. Ketegangan pagi perlahan berubah menjadi rasa syukur. Warga yang lebih dulu sibuk mengamankan rumah kini ikut memberikan restu dan kebahagiaan dapat hidup berdampingan dalam situasi bencana. Sarinipun, menutup pagi itu dengan kalimat yang menggambarkan seluruh suasana.
“Akhirnya ya berjalan. Alhamdulillah lancar.” tuturnya.
Di tengah banjir, pernikahan Halimah dan Suwarno menjadi cerita tentang keteguhan hati. Tentang sebuah keluarga yang memilih melanjutkan langkah meski tanah tempat mereka berdiri sedang tergenang. Dan tentang desa kecil yang menunjukkan bahwa kebersamaan adalah pelampung terbaik ketika air naik tanpa kompromi.
Editor : DiksiNow






