Ketika Luka Diberi Gelar. Soeharto dan Politik Ingatan di Era Prabowo

Selasa, 11 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Reflektif khas DiksiNow

Sejarah tak pernah benar-benar selesai. Ia seperti buku catatan yang selalu bisa ditulis ulang oleh mereka yang berkuasa.

Hari ini, di Istana Negara, nama Soeharto disebut kembali. Bukan dalam konteks pengadilan, tapi penghormatan. Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sang mertua, bapak Orde Baru yang pernah memerintah negeri ini selama lebih dari tiga dekade.

Dalam satu upacara, sejarah seakan berputar.

Soeharto, simbol kekuasaan yang memenjarakan kritik, kini berdiri sejajar dengan Gus Dur,  presiden yang membebaskan perbedaan,  dan Marsinah, buruh perempuan yang dibunuh karena menuntut keadilan.

Tiga nama, tiga makna, satu panggung. Ironi itu sempurna.

Antara Jasa dan Dosa

Bagi sebagian orang, Soeharto adalah sosok “bapak pembangunan.” Jalan, bendungan, dan harga beras yang stabil menjadi bukti bahwa ia pernah memberi masa tenang di tengah gejolak pasca-1965.

Baca Juga:  Kemensos Usulkan 40 Tokoh Jadi Pahlawan Nasional, Mulai Gus Dur, Soeharto hingga Marsinah

Namun bagi banyak yang lain, ia juga penguasa yang membungkam, memenjarakan tanpa pengadilan, dan membangun kekuasaan di atas darah serta ketakutan.

Kini, negara seolah memilih untuk menutup mata terhadap separuh kisah itu.

Dengan satu tanda tangan presiden, pelaku dan korban kembali disatukan di halaman yang sama. Seakan tragedi dan keberanian memiliki bobot yang setara.

Politik Ingatan: Siapa yang Menulis Sejarah?

Dari awal, sejarah Indonesia selalu punya masalah dengan ingatan.

Kita cepat melupakan, lebih cepat memaafkan, dan paling cepat mencari simbol baru untuk menenangkan nurani.

Ketika Soeharto dijadikan pahlawan, bukan hanya luka masa lalu yang diabaikan, tetapi juga arah masa depan yang dikaburkan.

Reformasi yang dulu menumbangkan Orde Baru dibangun atas janji untuk melawan lupa. Tapi dua dekade kemudian, lupa justru dilembagakan, dibungkus dalam nama “penghormatan.”

Baca Juga:  Prabowo Resmi Beri Gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto

Di titik ini, kita tak lagi bicara tentang siapa benar dan siapa salah, melainkan siapa yang berhak menentukan narasi. Dan seperti biasa, yang berkuasa menulisnya.

Simbol yang Berubah Makna

Gelar pahlawan bukan sekadar penghargaan. Ia adalah pesan moral yang dikirim negara kepada generasi berikutnya.

Ketika nama Soeharto disematkan di sana, negara sedang menegaskan bahwa stabilitas lebih penting daripada kebebasan, bahwa pembangunan lebih layak dikenang daripada keadilan.

Mungkin inilah bentuk baru dari “politik tenang”, di mana rakyat diajak melupakan luka agar bisa kembali percaya.

Namun keheningan yang dibangun dari penyangkalan bukanlah kedamaian, ia hanya jeda sebelum sejarah kembali menuntut penjelasan.

Antara Tepuk Tangan dan Tangisan

Di layar televisi, Tutut Soeharto tersenyum saat menerima bintang penghargaan. Di jalan-jalan, beberapa mahasiswa memegang poster bertuliskan, “Negara sedang bercanda dengan luka kami,”.

Baca Juga:  Soeharto Jadi Pahlawan Nasional: Manuver Politik di Awal Era Prabowo ?

Dua adegan itu berjalan bersamaan, satu di atas karpet merah, satu di aspal panas, seperti dua bab yang tak pernah bisa dipertemukan dalam satu buku.

Dan mungkin memang begitu caranya negara kita memaknai sejarah: tidak dengan refleksi, tapi seleksi.

Refleksi DiksiNow

Hari ini, bangsa ini tak hanya memberi gelar kepada seorang mantan presiden. Kita juga sedang menguji ingatan kolektif. Apakah keadilan masih relevan ketika pelaku telah wafat, dan apakah luka masih penting ketika sejarah sudah berganti halaman?

Soeharto kini resmi jadi pahlawan nasional. Tapi bagi sebagian rakyat yang kehilangan anaknya di 1965, atau aktivis yang hilang di 1998, penghargaan itu tak menghapus apa pun.

Ia hanya mengingatkan, bahwa di negeri ini, yang punya kuasa bisa memilih bagian mana dari sejarah yang pantas dikenang  dan bagian mana yang harus dilupakan.

Penulis : Redaksi

Editor : DiksiNow

Berita Terkait

Menguji Program MBG di Jombang: Perputaran Dana Ratusan Miliar, Di Tengah Keluhan Menu dan Tekanan Ekonomi
Guru Honorer Ditahan karena Rangkap Jabatan, Elite yang Double Job Bagaimana?
Tebuireng, Dari Resolusi Jihad ke Demokrasi
Fatwa dari Lereng Arjuno: Ketika Sound Horeg Diharamkan
Sekolah Rakyat dan Pendidikan Dasar yang Nyaris Punah : Paradoks Pendidikan Jombang di Tengah Rencana Pemerataan

Berita Terkait

Minggu, 15 Maret 2026 - 14:57

Menguji Program MBG di Jombang: Perputaran Dana Ratusan Miliar, Di Tengah Keluhan Menu dan Tekanan Ekonomi

Minggu, 1 Maret 2026 - 09:25

Guru Honorer Ditahan karena Rangkap Jabatan, Elite yang Double Job Bagaimana?

Selasa, 11 November 2025 - 00:13

Ketika Luka Diberi Gelar. Soeharto dan Politik Ingatan di Era Prabowo

Senin, 10 November 2025 - 15:51

Tebuireng, Dari Resolusi Jihad ke Demokrasi

Senin, 7 Juli 2025 - 20:52

Fatwa dari Lereng Arjuno: Ketika Sound Horeg Diharamkan

Berita Terbaru

Daerah

NasDem Jombang Didesak Respons Isu Tempo

Kamis, 16 Apr 2026 - 17:18

Daerah

Perdana, Orado Jombang Gelar Turnamen Kejurcab Domino

Minggu, 29 Mar 2026 - 15:16